Recent Blog Posts
Site Wide
-
Baru ku tahu begitu beratnya amanah menjadi koord. sie perijinan. baru kali ini kau mengalami menjadi seperti ini. sungguh luar biasa perjuangan yang harus mereka keluarkan demi kesuksesan acara. mereka yang rela berlari kesana-kemari. mereka yang rela meluangkan waktu menunggu untuk sebuah tanda tangan dan ijin dari para empunya tempat. hari-demi hari jam silih berganti [...]
-
-
-
-
|
Ada seorang perempuan tua yang taat beragama, tetapi suaminya seorang yang fasik dan tidak mau mengerjakan kewajipan agama dan berbuat kebaikan. Perempuan itu sentiasa membaca Bismillah setiap kali hendak berbicara dan setiap kali dia hendak memulakan sesuatu sentiasa didahului dengan Bismillah. Suaminya tidak suka dengan sikap isterinya dan sentiasa memperolok-olokkan isterinya. Suaminya berkata sambil mengejek, “Asyik Bismillah, Bismillah. Sekejap-sekejap Bismillah.”
Isterinya tidak berkata apa-apa melainkan dia hanya berdoa kepada Alloh SWT supaya memberikan hidayah kepada suaminya. Suatu hari suaminya berkata: “Suatu hari nanti akan aku membuat kamu kecewa dengan bacaan-bacaanmu itu.”
Untuk membuat sesuatu yang memeranjatkan isterinya, dia memberikan uang yang banyak kepada isterinya dengan berkata, “Simpan uang ini.” Isterinya mengambil uang itu dan menyimpan di tempat yang aman, di samping itu suaminya telah melihat tempat yang disimpan oleh isterinya. Kemudian dengan sembunyi-sembunyi suaminya itu mengambil uang tersebut dan membuang tempat uang tsb.
Setelah beberapa hari kemudian suaminya itu memanggil isterinya dan berkata, “Berikan kepadaku uang yang dulu pernah aku berikan kepadamu untuk disimpan.” Kemudian isterinya pergi ke tempat dia menyimpan uang itu dan diikuti oleh suaminya dengan berhati-hati seraya dia menghampiri tempat istrinya menyimpan uang itu. Sang istri membuka kotak tempat menyimpan itu dengan membaca, “Bismillahirrahmanirrahiim.” Ketika itu Alloh SWT menghantar malaikat Jibrail a.s untuk mengembalikan uang yang telah diambil suaminya terlebih dahulu tanpa sepengetahuan sitrinya. Kemudian sang istri menyerahkan uang itu kepada suaminya kembali.
Alangkah terperanjat suaminya, dia berasa bersalah dan mengaku segala perbuatannya kepada isterinya, ketika itu juga dia bertaubat dan mulai mengerjakan perintah Alloh, dan dia juga membaca Bismillah apabila dia hendak mangawali mengerjakan sesuatu apapun…

Foto: Me & adek-adek Ponpes Nurul Falah Al-Amin Sragen di Teras Masjid Area Makam Syaikh Kholil Bangkalan Madura (guru Syaikh Hasyim Asy ‘Ary-pendiri NU)-2012
Sebagai insan yang beragama Islam, tentunya akan banyak sekali fenomena keagamaan yang terjadi di kehidupan kita. Kebesaran Negara Indonesia ini membawa banyak sekali kultur kebudayaan dalam beragama dan bertata kelakuan. Berbagai kegiatan yang dilakukan masyarakat dalam tata kehidupannya membawa kasanah ke-khasan kebudayaan Negara kita yang majemuk. Itu artinya, banyak pendapat, keyakinan dan tata cara berfikir logis menurut masing-masing orang. Lalu apakah salah jika mereka melakukan sesuatu yang mungkin menurut sebagian orang itu salah dan tidak sesuai menurut keyakinan (yg tidak cocok) ??? Tentunya perlu kecerdasan serta bersihnya hati dalam menanggapi hal itu. Karena pada dasarnya masalah keyakinan tidak dapat dicampur adukkan dengan nafsu. Benar menurut seseorang yang satu, belum tentu benar menurut seseorang yang lain. Yang Maha Benar hanya Alloh SWT semata.
Dalam kasanah keagamaan di Negara kita, khususnya agama Islam, kegiatan ziaroh merupakan suatu rutinitas dan kebiasaan bagi umat islam. Seperti halnya budaya ziaroh kepada para leluhur, orang tua, dan para tokoh agama, wabil khusus kepada para Auliya’ illah, makam para walisongo dan para guru-guru mursyid. Bahkan karena telah menjadi kebiasaan, maka banyak sekali para santri pesantren, penduduk baik pribadi dan jamaahnya melakukan ziaroh kubur.
Dalam keterangan dari berbagai hadist dan kandungan dalam kitab Hujah Ahlussunah Waljamaa’ah, ziaroh kubur dihukumi sunah. Itu artinya, barang siapa melakukan ziaroh kubur dengan niat mencari keridhoan Alloh SWT, maka akan memperoleh pahala. Selain daripada itu, manfaat ziaroh kubur adalah untuk “tudzakkirul mauut”, mengingatkan kita kepada kematian. Bahawa kita akan sama dengan “si mayit” yang telah meninggal. Maka dalam kaifiyyah-tata cara berziaroh kubur adalah ketika masuk area makam, disunahkan untuk mengucapkan salam- mendoakaan kepada ahli kubur muslimin muslimat.
Rekan-rekan yang budiman. Yang perlu saya luruskan dalam masalah ziaroh kubur, antara lain mengenai masalah kesalahan konsep yang akibatnya fatal bagi seorang muslim. Hal itu adalah masalah akidah, pemahaman yang salah. Kegiatan ziaroh kubur yang dilaksanakan para santri-santri pesantren di sini adalah sebatas melakukan ziaroh, dengan maksud dan tujuan hanya satu, yaitu mencari keridhoan Alloh Ta’ala, tidak lebih dari itu. Mencari keridhoan Alloh bil wasiilah dengan ziaroh. Karena ziaroh mempunyai keutamaan-keutamaan seperti yang telah saya kemukakan fadhilahnya di atas. Selain daripada itu, kita sebagai seorang anak, murid mempunyai kewajiban berbakti kepada orang tua, para guru-guru ketika mereka sudah meninggal dunia untuk mendoakan, memohonkan ampunan kepada Alloh SWT. Apakah sampai doa kita kepada orang yang telah meninggal? Silakan kaji kitab Hujjah Ahulussunah Waljamaa’ah.
Berikut merupakan jawaban Ibnu Taimiyah ketika di tanya tentang keluarga al-marhum yang membaca al-Qur’an untuk orang mati :
سئل: عن قراءة أهل الميت تصل إليه؟ والتسبيح والتحميد، والتهليل والتكبير، إذا أهداه إلى الميت يصل إليه ثوابها أم لا؟. الجواب: يصل إلى الميت قراءة أهله، وتسبيحهم، وتكبيرهم، وسائر ذكرهم لله تعالى، إذا أهدوه إلى الميت، وصل إليه، والله أعلم
(Ibnu Taimiyah) ditanya tentang keluarga al-Marhum yang membaca al-Qur’an yang disampaikan kepada mayyit? Tasybih, tahmid, tahlil dan takbir, apabila menghadiahkannya kepada mayyit, apakah pahalanya sampai kepada mayyit ataukah tidak ? Pembacaaan al-Qur’an oleh keluarga almarhum sampai kepada mayyit, dan tasbih mereka, takbir dan seluruh dziki-dzikir karena Allah Ta’alaa apabila menghadiahkannya kepada mayyit, maka sampai kepada mayyit. Wallahu A’lam (ibid 3/38).
Seperti keterangan dari Ibnul Qayyim al-Jauziyyah yang merupakan murid dari Ibnu Taimiyah, yang juga menjadi rujukan kaum Wahhabiyah. Didalam salah satu kitabnya yaitu ar-Ruh termaktub hal-hal sebagai berikut :
وَقد ذكر عَن جمَاعَة من السّلف أَنهم أوصوا أَن يقْرَأ عِنْد قُبُورهم وَقت الدّفن قَالَ عبد الْحق يرْوى أَن عبد الله بن عمر أَمر أَن يقْرَأ عِنْد قَبره سُورَة الْبَقَرَة وَمِمَّنْ رأى ذَلِك الْمُعَلَّى بن عبد الرَّحْمَن وَكَانَ الامام أَحْمد يُنكر ذَلِك أَولا حَيْثُ لم يبلغهُ فِيهِ أثر ثمَّ رَجَعَ عَن ذَلِك
“dan sungguh telah disebutkan dari jama’ah salafush shalih bahwa mereka berwasiat agar dibacakan al-Qur’an disisi qubur mereka waktu dimakamkan, Abdul Haq berkata : telah diriwayatkan bahwa Abdullah bin ‘Umar –radliyallahu ‘anhumaa- memerintahkan agar dibacakan surah al-Baqarah disisi quburnya dan diantara yang meriwayatkan demikian adalah al-Mu’alla bin Abdurrahman, sedangkan awalnya Imam Ahmad mengingkari yang demikian karena atsar tentang hal itu tidak sampai kepadanya namun kemudian Imam Ahmad ruju’ dari yang demikian”
وَقَالَ الْخلال فِي الْجَامِع كتاب الْقِرَاءَة عِنْد الْقُبُور اُخْبُرْنَا الْعَبَّاس بن مُحَمَّد الدورى حَدثنَا يحيى بن معِين حَدثنَا مُبشر الحلبى حَدثنِي عبد الرَّحْمَن بن الْعَلَاء بن اللَّجْلَاج عَن أَبِيه قَالَ قَالَ أَبى إِذا أنامت فضعنى فِي اللَّحْد وَقل بِسم الله وعَلى سنة رَسُول الله وَسن على التُّرَاب سنا واقرأ عِنْد رأسى بِفَاتِحَة الْبَقَرَة فإنى سَمِعت عبد الله بن عمر يَقُول ذَلِك قَالَ عَبَّاس الدورى سَأَلت أَحْمد بن حَنْبَل قلت تحفظ فِي الْقِرَاءَة على الْقَبْر شَيْئا فَقَالَ لَا وَسَأَلت يحيى ابْن معِين فحدثنى بِهَذَا الحَدِيث
“dan al-Khallal di dalam al-Jami’ kitab tentang pembacaan al-Qur’an di sisi kubur, telah mengkhabarkan kepada kami al-‘Abbas bin Muhammad ad-Dauri, menceritakan kepada kami Yahya bin Mu’in, menceritakan kepada kami Mubasysyir al-Halabi, menceritakan kepadaku Abdurrahman bin al-‘Alaa’ bin al-Lajlaj dari ayahnya, ia berkata : ayahnya berkata : apabila aku mati, kuburlah aku di dalam liang lahad dan ucapakanlah, “dengan asma Allah dan atas Sunnah Rasulillah”, kemudian ratakanlah di atas tanah, dan bacalah disisi (qubur) kepalaku pembukaan surah al-Baqarah, sebab aku mendengar Abdullah bin ‘Umar mengatakan hal itu, ‘Abbas ad-Dauri lalu berkata : aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal, aku katakan : Ia hafal sesuatu tentang pembacaan al-Qur’an diatas qubur, ia menjawab : tidak, dan aku bertanya kepada Yahya bin Mu’in, maka ia menceritakan kepadaku hadits ini.
قَالَ الْخلال وَأَخْبرنِي الْحسن بن أَحْمد الْوراق حَدَّثَنى على بن مُوسَى الْحداد وَكَانَ صَدُوقًا قَالَ كنت مَعَ أَحْمد بن حَنْبَل وَمُحَمّد بن قدامَة الجوهرى فِي جَنَازَة فَلَمَّا دفن الْمَيِّت جلس رجل ضَرِير يقْرَأ عِنْد الْقَبْر فَقَالَ لَهُ أَحْمد يَا هَذَا إِن الْقِرَاءَة عِنْد الْقَبْر بِدعَة فَلَمَّا خرجنَا من الْمَقَابِر قَالَ مُحَمَّد بن قدامَة لِأَحْمَد بن حَنْبَل يَا أَبَا عبد الله مَا تَقول فِي مُبشر الْحلَبِي قَالَ ثِقَة قَالَ كتبت عَنهُ شَيْئا قَالَ نعم فَأَخْبرنِي مُبشر عَن عبد الرَّحْمَن بن الْعَلَاء اللَّجْلَاج عَن أَبِيه أَنه أوصى إِذا دفن أَن يقْرَأ عِنْد رَأسه بِفَاتِحَة الْبَقَرَة وخاتمتها وَقَالَ سَمِعت ابْن عمر يُوصي بذلك فَقَالَ لَهُ أَحْمد فَارْجِع وَقل للرجل يقْرَأ
“al-Khallal berkata : telah mengkhabrkan kepadaku al-Hasan bin Ahmad al-Warraq, menceritakan kepadaku ‘Ali bin Musa al-Haddad sedangkan ia adalah orang yang jujur (shaduq), ia berkata : aku bersama Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Qudamah al-Jauhari pada sebuah jenazah, ketika itu telah selesai pemakaman mayyit maka duduklah seorang laki-laki buta membacakan al-Qur’an di sisi qubur, kemudian Ahmad berkata kepadanya : “hai.. apa ini ? sesungguhnya pembacaan al-Qur’an di sisi qubur adalah bid’ah”. Maka ketika kami keluar dari area pekuburan, kemudian Muhammad bin Qudamah berkata kepada Ahmad bin Hanbal : “wahai Abu Abdillah, apa yang engkau katakan tentang Mubasysyir al-Halabi ?” Ahmad berkata : “tsiqah”, al-Jauhari berkata : “apakah engkau meriwayatkan sesuatu darinya ?” Ahmad berkata : “iya”. Maka mengabarkan kepada Mubasyyir dari Abdurrahman bin al-‘Alaa’ al-Lajlaj dari ayahnya bahwa ia berwasiat apabila dimakamkan agar membaca di sisi kepala (qubur) nya dengan pembukaan al-Baqarah dan mengkhatamkannya, dan ia berkata : aku mendengar Ibnu ‘Umar mewasiatkan hal itu, kemudian Ahmad berkata kepadanya : maka kembalilah dan katakanlah kepada laki-laki agar membacanya”.
وَقَالَ الْحسن بن الصَّباح الزَّعْفَرَانِي سَأَلت الشَّافِعِي عَن الْقِرَاءَة عِنْد الْقَبْر فَقَالَ لَا بَأْس بهَا
“al-Hasan bin ash-Shabbah az-Za’farani berkata ; aku bertanya kepada Imam asy-Syafi’i tentang pembacaan al-Qur’an disisi qubur, maka beliau menjawab : hal itu tidak apa-apa”.
وَذكر الْخلال عَن الشّعبِيّ قَالَ كَانَت الْأَنْصَار إِذا مَاتَ لَهُم الْمَيِّت اخْتلفُوا إِلَى قَبره يقرءُون عِنْده الْقُرْآن قَالَ وَأَخْبرنِي أَبُو يحيى النَّاقِد قَالَ سَمِعت الْحسن بن الجروى يَقُول مَرَرْت على قبر أُخْت لي فَقَرَأت عِنْدهَا تبَارك لما يذكر فِيهَا فَجَاءَنِي رجل فَقَالَ إنى رَأَيْت أختك فِي الْمَنَام تَقول جزى الله أَبَا على خيرا فقد انتفعت بِمَا قَرَأَ أَخْبرنِي الْحسن بن الْهَيْثَم قَالَ سَمِعت أَبَا بكر بن الأطروش ابْن بنت أبي نصر بن التمار يَقُول كَانَ رجل يَجِيء إِلَى قبر أمه يَوْم الْجُمُعَة فَيقْرَأ سُورَة يس فجَاء فِي بعض أَيَّامه فَقَرَأَ سُورَة يس ثمَّ قَالَ اللَّهُمَّ إِن كنت قسمت لهَذِهِ السُّورَة ثَوابًا فاجعله فِي أهل هَذِه الْمَقَابِر
“al-Khallal menuturkan dari asy-Sya’bi, ia berkata : shahabat (qaum) Anshar ketika seseorang antara mereka wafat, mereka saling datang ke quburnya dan membacakan al-Qur’an disisi quburnya, Ia berkata : “dan mengabarkan kepadaku Abu Yahya an-Naqid, ia berkata : aku mendengar al-Hasan bin al-Jarwiy mengatakan : aku berjalan ke qubur saudara perempuanku kemudian aku membaca surah Tabarak (al-Mulk) di sisi (qubur) nya, setelah menuturkan tentangnya maka seorang laki-laki datang kepadaku, kemudian berkata : sesungguhnya aku melihat saudara perempuanmu dalam mimpi mengatakan : semoga Allah membalas kebaikan Abu ‘Ali, sungguh memberikan manfaat kepadaku apa yang ia baca”, Telah mengkhabarkan kepadaku al-Hasan bin al-Haitsam, ia berkata : aku mendengar Abu Bakar bin al-Athrusy Ibnu binti Abu Nashr bin at-Tamar mengatakan : seorang laki-laki datang ke qubur ibunya pada hari Jum’at kemudian membaca surah Yasiin, pada sebgian hari yang lain ia juga datang membaca surah Yasiin, kemudian berdoa : “ya Allah jika Engkau membagikan pahala dengan surah ini, maka jadikanlah pahalanya untuk penghuni pekuburan ini”.
فَلَمَّا كَانَ يَوْم الْجُمُعَة الَّتِي تَلِيهَا جَاءَت امْرَأَة فَقَالَت أَنْت فلَان ابْن فُلَانَة قَالَ نعم قَالَت إِن بِنْتا لي مَاتَت فرأيتها فِي النّوم جالسة على شَفير قبرها فَقلت مَا أجلسك هَا هُنَا فَقَالَت إِن فلَان ابْن فُلَانَة جَاءَ إِلَى قبر أمه فَقَرَأَ سُورَة يس وَجعل ثَوَابهَا لأهل الْمَقَابِر فأصابنا من روح ذَلِك أَو غفر لنا أَو نَحْو ذَلِك
“Ketika telah tiba hari Jum’at berikutnya, seorang perempuan datang menemuinya kemudian perempuan itu berkata : apakah engkau Fulan bin Fulanah? Ia berkata : “betul”, perempuan itu berkata : sesungguhnya putriku meninggal dunia dan aku melihat di dalam mimpi ia sedang duduk di atas quburnya, kemudian aku berkata : kenapa engkau duduk di sini ? ia berkata : sesungguhnya Fulan bin Fulanah datang ke quburnya ibunya kemudian membaca surah Yasiin, dan menjadikan pahalanya untuk seluruh penghuni quburan, maka kami mendapatkan dari ruh yang demikian atau pengampunan bagi kami atau seumpama itu” (ar-Ruh fil Kalami ‘alaa Arwahil Amwat wal Ahya’ bid-Dalaili minal Kitab was Sunnah [1/10-11], Ibnul Qayyim al-Jauziyyah
Masih terkait penuturan Ibnul Qayyim al-Jauziyyah tentang membaca al-Qur’an untuk orang mati :
وأما قراءة القرآن وإهداؤها له تطوعا بغير أجرة فهذا يصل إليه كما يصل ثواب الصوم والحج
“Adapun membaca al-Qur’an dan menghadiahkannya kepada mayyit merupakan anjuran dengan tanpa bayaran, maka ini sampai kepada mayyit sebagaimana sampainya pahala puasa dan haji. (Ibid [1/142].)
Oleh karena itu, tidak semestinya kita sebagai insane yang berjiwa besar, insane yang ter-amat dhoif di hadapan Alloh SWT, menjadi insane yang merasa diri pribadi sendiri merasa paling benar. Yang benar secara haq adalah hanya Alloh SWT semata. Semoga kita menjadi insane yang ikhlas semata mencari keridhoan Alloh SWT, aamiin.

Foto: Me & Abah K.H Ma’ruf Islamuddin (Pengasuh Ponpes Salafiah Putra-putri Walisongo Sragen) di Samping Masjid Area Makam Syaikh Kholil Bangkalan Madura (guru Syaikh Hasyim Asy ‘Ary-pendiri NU)-2012
Ada sebait do’a yang pernah diajarkan Rasulullah SAW dan disunnahkan untuk dipanjatkan kepada Allah Azza wa Jalla sebelum seseorang hendak belajar. do’a tersebut berbunyi : Allaahummanfa’nii bimaa allamtanii wa’allimnii maa yanfa’uni wa zidnii ilman maa yanfa’unii. Dengan do’a ini seorang hamba berharap dikaruniai oleh-Nya ilmu yang bermamfaat.
Apakah hakikat ilmu yang bermamfaat itu? Secara syariat, suatu ilmu disebut bermamfaat apabila mengandung mashlahat - memiliki nilai-nilai kebaikan bagi sesama manusia ataupun alam. Akan tetapi, mamfaat tersebut menjadi kecil artinya bila ternyata tidak membuat pemiliknya semakin merasakan kedekatan kepada Dzat Maha Pemberi Ilmu, Allah Azza wa Jalla. Dengan ilmunya ia mungkin meningkat derajat kemuliaannya di mata manusia, tetapi belum tentu meningkat pula di hadapan-Nya.
Oleh karena itu, dalam kacamata ma’rifat, gambaran ilmu yang bermamfaat itu sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh seorang ahli hikmah. “Ilmu yang berguna,” ungkapnya, “ialah yang meluas di dalam dada sinar cahayanya dan membuka penutup hati.” seakan memperjelas ungkapan ahli hikmah tersebut, Imam Malik bin Anas r.a. berkata, “Yang bernama ilmu itu bukanlah kepandaian atau banyak meriwayatkan (sesuatu), melainkan hanyalah nuur yang diturunkan Allah ke dalam hati manusia. Adapun bergunanya ilmu itu adalah untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kesombongan diri.”
Ilmu itu hakikatnya adalah kalimat-kalimat Allah Azza wa Jalla. Terhadap ilmunya sungguh tidak akan pernah ada satu pun makhluk di jagat raya ini yang bisa mengukur Kemahaluasan-Nya. sesuai dengan firman-Nya, “Katakanlah : Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menuliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al Kahfi [18] : 109).
Adapun ilmu yang dititipkan kepada manusia mungkin tidak lebih dari setitik air di tengah samudera luas. Kendatipun demikian, barangsiapa yang dikaruniai ilmu oleh Allah, yang dengan ilmu tersebut semakin bertambah dekat dan kian takutlah ia kepada-Nya, niscaya “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah [58] : 11). Sungguh janji Allah itu tidak akan pernah meleset sedikit pun!
Akan tetapi, walaupun hanya “setetes” ilmu Allah yang dititipkan kepada mnusia, namun sangat banyak ragamnya. ilmu itu baik kita kaji sepanjang membuat kita semakin takut kepada Allah. Inilah ilmu yang paling berkah yang harus kita cari. sepanjang kita menuntut ilmu itu jelas (benar) niat maupun caranya, niscaya kita akan mendapatkan mamfaat darinya.
Hal lain yang hendaknya kita kaji dengan seksama adalah bagaimana caranya agar kita dapat memperoleh ilmu yang sinar cahayanya dapat meluas di dalam dada serta dapat membuka penutup hati? Imam Syafii ketika masih menuntut ilmu, pernah mengeluh kepada gurunya. “Wahai, Guru. Mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah sekali memahaminya dan bahkan cepat lupa?” Sang guru menjawab, “Ilmu itu ibarat cahaya. Ia hanya dapat menerangi gelas yang bening dan bersih.” Artinya, ilmu itu tidak akan menerangi hati yang keruh dan banyak maksiatnya.
Karenanya, jangan heran kalau kita dapati ada orang yang rajin mendatangi majelis-majelis ta’lim dan pengajian, tetapi akhlak dan perilakunya tetap buruk. Mengapa demikian? itu dikarenakan hatinya tidak dapat terterangi oleh ilmu. Laksana air kopi yang kental dalam gelas yang kotor. Kendati diterangi dengan cahaya sekuat apapun, sinarnya tidak akan bisa menembus dan menerangi isi gelas. Begitulah kalau kita sudah tamak dan rakus kepada dunia serta gemar maksiat, maka sang ilmu tidak akan pernah menerangi hati.
Padahal kalau hati kita bersih, ia ibarat gelas yang bersih diisi dengan air yang bening. Setitik cahaya pun akan mampu menerangi seisi gelas. Walhasil, bila kita menginginkan ilmu yang bisa menjadi ladang amal shalih, maka usahakanlah ketika menimbanya, hati kita selalu dalam keadaan bersih. hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari ketamakan terhadap urusan dunia dan tidak pernah digunakan untuk menzhalimi sesama. Semakin hati bersih, kita akan semakin dipekakan oleh Allah untuk bisa mendapatkan ilmu yang bermamfaat. darimana pun ilmu itu datangnya. Disamping itu, kita pun akan diberi kesanggupan untuk menolak segala sesuatu yang akan membawa mudharat.
Sebaik-baik ilmu adalah yang bisa membuat hati kita bercahaya. Karenanya, kita wajib menuntut ilmu sekuat-kuatnya yang membuat hati kita menjadi bersih, sehingga ilmu-ilmu yang lain (yang telah ada dalam diri kita) menjadi bermamfaat.
Bila mendapat air yang kita timba dari sumur tampak keruh, kita akan mencari tawas (kaporit) untuk menjernihkannya. Demikian pun dalam mencari ilmu. Kita harus mencari ilmu yang bisa menjadi “tawas”-nya supaya kalau hati sudah bening, ilmu-ilmu lain yang kita kaji bisa diserap seraya membawa mamfaat.
Mengapa demikian? Sebab dalam mengkaji ilmu apapun kalau kita sebagai penampungnya dalam keadaan kotor dan keruh, maka tidak bisa tidak ilmu yang didapatkan hanya akan menjadi alat pemuas nafsu belaka. Sibuk mengkaji ilmu fikih, hanya akan membuat kita ingin menang sendiri, gemar menyalahkan pendapat orang lain, sekaligus aniaya dan suka menyakiti hati sesama. Demikian juga bila mendalami ilmu ma’rifat. Sekiranya dalam keadan hati busuk, jangan heran kalau hanya membuat diri kita takabur, merasa diri paling shalih, dan menganggap orang lain sesat.
Oleh karena itu, tampaknya menjadi fardhu ain hukumnya untuk mengkaji ilmu kesucian hati dalam rangka ma’rifat, mengenal Allah. Datangilah majelis pengajian yang di dalamnya kita dibimbing untuk riyadhah, berlatih mengenal dan berdekat-dekat dengan Allah Azza wa Jalla. Kita selalu dibimbing untuk banyak berdzikir, mengingat Allah dan mengenal kebesaran-Nya, sehingga sadar betapa teramat kecilnya kita ini di hadapan-Nya.
Kita lahir ke dunia tidak membawa apa-apa dan bila datang saat ajal pun pastilah tidak membawa apa-apa. Mengapa harus ujub, riya, takabur, dan sum’ah. Merasa diri besar, sedangkan yang lain kecil. Merasa diri lebih pintar sedangkan yang lain bodoh. Itu semua hanya karena sepersekian dari setetes ilmu yang kita miliki? Padahal, bukankah ilmu yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan Allah jua, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mengambilnya kembali dari kita?
Subhanallaah! Mudah-mudahan kita dimudahkan oleh-Nya untuk mendapatkan ilmu yang bisa menjadi penerang dalam kegelapan dan menjadi jalan untuk dapat lebih bertaqarub kepada-Nya.***
Nasehat : K.H. Abdulloh Gymnastar (AA Gym)
Apakah motivasi anda belajar? Apakah motivasi anda bekerja? Dan apakah motivasi anda beribadah? Apakah semata karena mausia, ingin dipandang, ingin diperhatikan, ingin dihormati? Ingin memperoleh kedudukan terhormat di mata masyarakat? So, dengan niatan apa pula anda belajar, bekerja? Mari kita luruskan niat karena Alloh Ta’ala…Bismillah, semoga kita bisa, aamiin…Mohon maaf dhohir batin…
Rekan-rekan yang budiman… Alhamdulillah, segala puji syukur tetap terhaturkan kepada Alloh SWT, karena atas segala kenikmatan yg tiada tara, maka tiada daya dan upaya yang dapat kita lakukan guna membalasnya kepada Alloh SWT. Sholawat serta salam tetap tercurah kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhamaad SAW dan semoga kita akan mendapatkan syafa’atnya serta diakui menjadi umatnya kelak di yaumul qiyyaamah, aamiin.
Rekan-rekan seperjuangan ikhwanul muslimin yg saya banggakan. Telah kita ketahui bersama, bahwa banyak sekali konflik-konflik keagamaan yg mengatasnamakan Islam. Berbagai atribut “bertemakan” Islam. Banyaknya penghancuran di berbagai tempat, termasuk tempat ibadah dan rumah warga, serta berbagai fasilitas umum lainnya. Apakah itu merupakan ciri Islam yg Rohmatral lil’aalamiin???? Jelas sekali itu tidak sesuai dengan ajaran Islam yg cinta semua makhluk (baik manusia maupun makhluik hidup lain).
Tak pelak lagi, berbagai “kekerasan” yg terjadi dalam kehidupan masyarakat yg ditampilkan individu atau golongan tertentu yg mengatasnamakan Islam (baik secara langsung atau tidak), atau bahkan dari rekan-rekan seperjuangan Islam sendiri, yg “mungkin” bertujuan berdakwah atau untuk menyalurkan aspirasi-pendapat masing-masing (pendapat-berarti sesuai dengan tingkat keilmuan atau pemahaman yg telah diperoleh setiap individu masing-masing), karena hal itu malah dapat mencintrakan Islam adalah agama kekerasan, Islam adalah agama perusakan, Islam adalah agama pembunuh, Islam adalah agama yg tidak lemah lembut. Na’udzubillah, tsumma na’udzubillah. Seperti sejarah yg telah mencatat, bahwa Rosululloh saja memberikan teladan dalam berdakwah menyebarkan agama Islam. Kita sebagai manusuia yg beragama Islam harus menjadi sosok yg harus bisa memberikan teladan dalam setiap aspek kehidupan bermasyarakat. Sebagai contoh, ketika Nabi Muhammad SAW melakukan rutinitas dakwah, beliau sering sekali dilempari kotoran, batu dll sampai-sampai beliau terluka. Namun bagaimana sikap Nabi Muhammad SAW menanggapi hal tersebut??? Apakah beliau dendam dan membalas setiap perlakuan orang-orang yg menyakitinya??? Atau apakah beliau mengajak para sahabat untuk memerangi dan membunuhnya??? Jelas sekali sejarah mencatat TIDAK seperti itu yg dilakukan beliau. Beliau dengan semangat juang tinggi dan gigih menyebarkan Islam dengan cara yg santun, memberikan contoh akhlakul karimah yg baik tanpa memberikan kekerasan kepada siapapun. Bahkan beliau dengan ikhlas karena Alloh Ta’ala menengok orang-orang yg telah memerangi, menyakiti beliau ketika mereka sakit. Hal itulah yg harusnya kita jadikan suri teladan, contoh bagi kita semuanya sebagai penerus Ambiyak, wabil husus Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama Islam dengan mengedepankan akhlakul karimah.
Berbicara mengenai keberhasilan dakwah, maka secara bijak kita harus tetap bersandar kepada Alloh SWT dengan penuh keyakinan bahwa Alloh SWT bersifat Maha Pengampun dan Maha Agung atas segala sesuatu. Kewajiban kita sebagai manusia adalah sekedar berusaha dan berdo’a, disesuaikan dengan syariat yg telah diajarkan Alloh melalui kitabulloh dan Hadis, serta ijma’ qiyas keterangan dari para auliya’ sebagai warosatul ambiya’, penerus pewaris para Nabi dan Rosul. Perkara berhasil atau tidak, semuanya kembali kepada HIDAYAH dari Alloh SWT. Ibaratnya mau diceramahi, dinasehati setiap detik-menit-jam-hari-bulan-bertahun-tahun, jika Alloh SWT belum berkenan memberikan HIDAYAH kepada seseorang, maka tidak akan mungkin hasilnya sesuai dengan yg kita harapkan. Berbagai ibroh, tarekh, sejarah telah mencatat. Sebagai contoh, Nabi Luth as, yg jelas seorang Nabi dan Rosul, bahkan istri dan anaknya tidak selamat dari murka Alloh SWT dengan ditenggelamkan air bah. Abu Tholib yg jelas-jelas paman Nabi Muhammad SAW sendiri (yg jelas-jelas Nabi Muhammad SAW dijamin masuk surga), yg melindungi beliau dari kaum penentang dakwah beliau, bahkan ketika meninggal belum masuk Islam. Kemudian ada seorang ulama’ besar dan mempunyai santri Pondok pesantren yg ribuan, bahkan meninggal dalam keadaan su’ul khothimah, dll. Itu semua menandakan bahwa semuanya adalah kuasa Alloh SWT dalam memberikan hidayah kepada manusia.
Jelas sekali bahwa Islam tidak seperti yg dicitrakan dan digambarkan oleh berbagai kekerasan bertemakan ISLAM yg terjadi di negeri ini. Mari kita bersama belajar dan mengambil ibroh ilmu dari kehidupan lebah. Lebah tidak akan memberikan kerusakan pada dahan bunga yg dihinggapinya. Lebah selalu mendatangi bunga (tempat) yg berisi sari pati yg nantinya akan menjadi madu. Lebah tidak akan menyerang siapapun kecuali dirinya dalam bahaya dalam rangka melindungi diri dan keluarganya. Dan lebah akan selalu mengeluarkan sesuatu yg sangat bermanfa’at (madu) untuk makhluk hidup lain (manusia). Sama halnya dengan Islam. Islam tidak akan memberikan segala bentuk perusakan dan kekerasan kepada segolongan apapun jika memang tidak diganggu keamanannya. Islam akan selalu mempunyai perkumpulan, jama’ah, halaqoh yg berisi orang-orang sholih sholihah. Islam akan selalu mengeluarkan manfa’at di setiap tempat, memberikan kemashlahatan bagi siapapun seluruh makhluk.
Marilah kita jaga, kita lestarikan, kita laksanakan ajaran Islam yg santun, Islam yg ramah, Islam yg kasih sayang, Islam yg memberikan kemanfa’atan dan kemashlahatan, Islam yg memberikan contoh dan teladan yg bagus dalam setiap kehidupan, baik bermasyarakat dan berbangsa, DAN MARI KITA TUNJUKKAN BAHWA ISLAM ADALAH AGAMA ROHMATAL LIL ‘AALAMIIN BAGI SELURUH MAKHLUK.
“Yaa ALLOH, Semoga Engkau senantiasa memberikan kekuatan untuk kita semua sebagai penerus perjuangan para utusan-Mu dalam melaksanakan segala perintah dan larangan-Mu, dan jadikanlah kami termasuk orang yg senantiasa memperoleh kasih sayangmu, bagi kami, anak-anak kami, keluarga kami, masyarakat jama’ah kami, dan Negara Tercinta ini Yaa ‘Aziz Yaa Ghoffar Yaa Robbal ‘Aalamiin, aamiin.”
Selamat & Semangat Hari Pendidikan Nasional….
Dalam kesempatan yg berbahagia ini, mari kita ucapkan syukur atas segala limpahan rohmat, hidayah dan inayah-Nya, sehingga pada detik ini kita masih bisa melantunkan syukur akan hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS). Moment yg teramat begitu penting bagi para kaum pendidik dan seluruh lapisan aspek rakyat Indonesia. Mengapa demikian??? Karena dengan pendidikan yg maju akan menjadi tolok ukur penilaian bangsa yg besar ini di mata dunia internasional. Hal tersebut memang benar adanya jika bisa menilai dan bermuhasabah dengan nilai budaya, kebiasaan, atau lebih dalam lagi biasa disebut pola pikir tata kehidupan warga negara kita. Kenapa demikian? Karena, dengan majunya pendidikan (kepintaran, kecerdasan, ilmu_Red) maka akan semakin maju dan pesatnya pembangunan di Indonesia.
Begitu pentingnya faktor pendidikan bagi setiap insan tanah air ini. Sampai-sampai pemerintah mencanangkan pendidikan 12 tahun (minimal setingkat SMA/SMK sederajat). Selain daripada itu, Alloh SWT benar-benar memperhatikan dengan sangat perbedaan antara orang yg berilmu dengan orang yg tidak. Disabdakan bahwa Alloh akan memberikan nilai kedudukan derajat yg tinggi bagi para umat manusia yg mempunyai ke-ilmuan yg tinggi.
Melihat semangat yg begitu besar akan peningkatan kualitas dunia pendidikan, namun perlu diperhatikan berbagai aspek. Tidak hanya oleh semangat juang para kaum pendidik-peserta didik, namun juga adanya peran serta pemerintah. Berbagai masalah dunia pendidikan dalam hal sarana prasarana (yg telah banyak kita jumpai dalam pemberitaan media massa atau elektronik-TV) banyak gedung sekolah runtuh, bocor, para anak didik menyeberang jembatan dari tali di atas sungai dll. Tanpa dukungan dan persatuan bersama, nonsen akan tercipta pendidikan yg kondusif. Walaupun tidak secara kontribusi besar, namun dengan semangat dan tindakan nyata dari diri pribadi masing-masing insan negara ini, serta didukung oleh pemerintah dengan memberikan perubahan yg nyata dalam kemajuan dunia pendidikan, baik sarana dan prasarana. Oleh karena itu, marilah kita pecahkan bersama berbagai permasalahan pendidikan yg begitu pelik. InsyAlloh kita akan menjadi Negara yg besar, negara yg akan diridhoi Alloh SWT, aamiin…
Segala puji syukur hamba haturkan kepada-Mu ya Alloh Robb Semesta Alam…Lantunan sholawat kami persembahakan kepadamu pula wahai kekasih Alloh dan seluruh makhluk langit dan bumi, sayyidina Muhammad SAW…Semoga engkau menjadikan dan mengakui kami termasuk salah satu dari umatmu, yg engau berikan syafa’at-pertolongan kelak di yaumul qiyaamah, aamiin…
Begitu besar nikmat yg Alloh berikan kepada kita semua. Jika kita mau menghitung berapa nikmat yg Alloh berikan kepada kita, maka tidak akan cukup walau bahkan kita menggunakan tinta lautan dan bumi langit sebagai kertasnya. Dari kita bisa mengerakkan jari tangan untuk menulis, meraba-merasakan kasar halus, memegang sendok untuk makan, kaki yg bisa berdiri menopang tubuh, hidung g menghadap ke bawah (bayangkan ketika Alloh menciptakan hidung kita menghadap ke atas, past akan kesakitan karena kemasukan air hujan), mata yg selalu bisa menikmati keindahan alam semesta raya ini, kedua kuping yg bisa mendengarkan dan lain-lain. Semua yg terdapat pada diri kita adalah kenikmatan. Itu baru sebatas pandangan dhohirih luar semata, belum lagi jika kita menilik pada struktur maupun bagian di dalam tubuh manusia, baik organ dalam seperti jantung, ginjal, paru-paru, lambung, empedu, hati dan lain-lain.
Pernahkah kita berfikir, apakah jantung pernah beristirahat wapau hanya beberapa detik saja??? Apakah mungkin jantung berhenti berdetak barang sebentar saja karena mengeluh kecapek-an??? Jika itu terjadi, niscaya kita akan mati. Pernahkah kita berfikir seberapa banyak udara-oksigen pemberian Alloh yg telah kita hirup??? Pernahkah kita kehabisan oksigen??? Pernahkah juga kita berfikir siapakah yg menciptakan dan memberikan itu semua kepada kita secara cuma-cuma (gratis)??? Adakah kekuatan yg mampun menciptakannya? Tak lain dan tak bukan, hanya Alloh Robbul ‘izzati sebagai dzat yg wajib kita sembah, dan wajib kita tho’ati, Pencipta segala makhluk yg ada di langit maupun di bumi, yg tampak dan yg tidak, yg kecil dan yg besar, serta yg telah memberikan kelengkapan vasilitas baik di dalam tubuh maupun sara pendukung tempat berpijak di bumi dan langit secara gratis…
Secara jelas telah kita peroleh kesimpulan, bahwa kita sebagai manusia adalah teramat dhoif dan hina jika kita tidak mengakui segala kenikmatan yg telah diberikan Alloh SWT. Maka samapi-sampai terdapat maqolah bahwa barang siapa yg mengucap syukur billisan-dengan ucapan “Alhamdulillaahirobbil’aalamiin” dengan penuh keyakinan sampai merasuk ke dalam relung hati yg paling dalam, maka niscaya jika dibandingkan dengan bumi langit seisinya, maka lebih berat timbangan ‘amal mengucap syukur billisan tsb.
Suatu kenikmatan yg luar biasa apabila kita mampu dan bisa istiqomah di jalan-Nya mengingatnya. Mengingatnya (dzikir) kepada-Nya…Mari sama-sama mengingatkan dan menguatkan untuk tetap menjadi insan yg mempunyai rasa terimakasih kepada Dzat yang Wajib Disembah (Alloh SWT). Ibarat kita sebagai butuh-budak yg baik, tidak akan menuntut hak-imbalan sebelum kita melaksanakan segala tugas dan kewajiban. Tentunya, jika kita memandang kehidupan ini adalah hak kita, maka segala bentuk kenikmatan itu sudah diberikan Alloh kepada kita. Lalu pertanya-annya, “Sudahkah kita melaksanakan kewajiban sebagai insan yg baik dan bertatakrama kepada Alloh selaku Dzat yg WAJIB kita tho’ati??? Kalau memang sudah, lalu dengan benar sesuai tuntunan syari’at agama Islam selaku kunci dari segala ‘amal??? Kalau memang sudah, sudahkah kita melaksanakan ketaqwaan itu dengan penuh ikhlas?
Semoga dengan muhasabah ini menjadikan kita senantiasa ingat (dzikir) kepada Alloh SWT, dalam hal, aqwal, ahwal dan ‘amal, aamiin…SEMANGAT!!!
Rekan-rekan SMK Walisongo yg mengikuti mata palajaran saya, baik kimia kelas 10 A-B, serta kelas 11 yg saya banggakan. Berharap denang penuh semangat mengembangakan diri, dan berdasarkan ulasan serta gambaran kinerja dari venomena fisika dan kimia (melalui media video) yg telah saya ulaskan. Oleh karena intu, DIWAJIBKAN memberikan :
1. Komentar fenomena tersebut secara aspek fisika dan kimia
2. Pelajaran-makna apa yg kalian peroleh dalam kehidupan kita sehari-hari
3. Tambahkan nama dan no absen kalian
4. Berubahlah dengan penuh semangat menjadi yg terbaik bagi diri sendiri, keluarga dan kebanggaan semuanya
Keterangan:
*. Gunakanlah tata bahasa yg sopan dan baik, guna mengawali perubahan yg positif dalam diri kita bersama, terimakasih…
Untuk kelas 10-B dan kelas 11, materi akan saya berikan insyAlloh waktu yg akan datang sesuai dengan jadualnya. Mohon untuk diperhatikan, terimakasih.
PENGUKURAN SEBARAN KETEBALAN LAPISAN TIPIS YANG DIPRODUKSI DENGAN METODE SPIN COATING
SECARA INTERFEROMETRIK
M. Sahil Luqman1), Sri Sulastri2), Amad Aftah Syukron3), Ahmad Marzuki4)
Jurusan Fisika FMIPA Universitas Sebelas Maret
Email: 1)Joko.ftn01@gmail.com
ABSTRAK
Salah satu sifat penting untuk diketahui dari suatu lapisan tipis adalah ketebalan dari lapisan tersebut. Hasil penelitian ini memberikan informasi suatu metode dan konstruksi dari suatu sistem optik menggunakan dasar Interferometer Michelson, yang memungkinkan dapat diaplikasikan untuk menentukan sebaran ketebalan dari suatu lapisan tipis setelah ditumbuhkan di atas sebuah substrat kaca. Suatu teknik pengukuran berbasis pada perbandingan dari dua pola interferensi yang dihasilkan oleh sinar Laser He-Ne dengan panjang gelombang λ=632.8 nm. Perbandingan antara dua pola dari interferensi yang dibentuk oleh substrat dengan dan tanpa lapisan diambil ke dalam satu perhitungan untuk mengukur sebaran ketebalan dari lapisan tipis tersebut. Metode yang telah dilakukan ini dapat mengukur sebaran ketebalan lapisan tipis dalam rentang (84-452) nm.
Kata Kunci: Interferensi, beda lintasan optis, perubahan fase, interferensi pada lapisan tipis
PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi dewasa ini mengalami kemajuan yang sangat pesat, terlebih lagi setelah digunakannya pendeposisian-pendeposisian material-material tertentu pada substrat. Aplikasi dari teknologi ini telah menjangkau dan mengakomodir berbagai bidang, baik bidang fisika, kimia, industri maupun bidang ilmu pengetahuan lainnya.
Dalam membuat suatu lapisan tipis, salah satunya dapat dilakukan dengan menggunakan metode spin coating, yaitu metode penumbuhan lapisan tipis pada subtrat dengan cara meneteskan cairan ke pusat subtrat yang diputar (May, 1999).
Dalam metode interferometri digunakan perangkat interferometer yang dapat digunakan untuk mengukur panjang atau perubahan panjang berdasarkan penentuan garis-garis interferensi (Halliday and Resnick, 1978). Penggunaan suatu interferometer memungkinkan untuk mengukur ketebalan thin film (film tipis). Metode ini menggunakan suatu sumber radiasi, sehingga memiliki skala ukur dengan limit orde panjang gelombang sinar laser yang digunakan (Hernández et. al., 1999).
Metode pengukuran ketebalan lapisan tipis yang biasa digunakan saat ini adalah metode Tolanski, FICO, Scanning Electron Microscopy (SEM), dan Ellipsometri (Farid, 1994). Metode pengukuran ketebalan lapisan tipis dengan metode SEM memerlukan biaya yang paling mahal di antara lainnya (Abdullah, 1999). Maka dari itu, dalam penelitian ini dilakukan pengukuran sebaran ketebalan lapisan tipis yang diproduksi pada substrat dengan metode spin coating. Pengukuran ketebalan lapisan tipis dengan menggunakan metode interferometri yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengatasi masalah tersebut.
Tujuan dari penelitian ini adalah dapat mengukur sebaran ketebalan lapisan tipis dengan menggunakan interferometer Michelson. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah diperoleh informasi mengenai pengukuran ketebalan suatu lapisan tipis dengan metode interferometri menggunakan interferometer Michelson dan dapat digunakan sebagai acuan dan dasar bagi pengembangan penelitian lebih lanjut.
Dari Abu Said Al Khudri ra., ia berkata : Nabi saw bersabda : “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman pada hari Qiyamat : “Wahai Adam”. Adam lalu menjawab : “Ya”,wahai Tuhan kami”, dan Adam dipanggil dengan suara : “Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk mengeluarkan utusan dari keturunanmu ke neraka”. Ia menjawab: “Wahai Tuhanku, berapa utusan keneraka itu ?” Dia berfirman : “Dari setiap seribu Aku kira sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang, ketika itu orang yang hamil melahirkan kandungannya dan anak menjadi beruban, kamu melihat orang-orang itu mabuk, namun (sebenarnya) mereka tidak mabuk tetapi siksa Allah itu amat hebat, dimana hal itu menyempitkan manusia sehingga wajah-wajah mereka berubah. Nabi saw bersabda : “Dari Ya’juj dan Ma’juj sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan dari kamu seorang, kemudian kamu dikalangan manusia seperti rambut hitam dilambung lembu putih atau seperti rambut putih di lambung lembu hitam. Dan sungguh aku berharap kamu menjadi seperempat penghuni syorga”. Maka kami bertakbir. Kemudian “sepertiga” penghuni syorga, maka kami bertakbir, kemudian “Separoh” penghuni syorga”, maka kami bertakbir”. Abu Usamah berkata dari Al A’masy, kamu lihat manusia itu mabuk, namun mereka tidaklah mabuk”. Beliau bersabda : “Dari setiap seribu orang sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
|
|
Recent Comments